Akses Jalan Terputus Akibat Longsor, Petani Leuser Tak Bisa Angkut Hasil Panen 

  • Redaksi
  • Senin, 06 Jan 2025 - 22:59 WIB - 808 Views
Akses Jalan Terputus Akibat Longsor, Petani Leuser Tak Bisa Angkut Hasil Panen 

ACEH TENGGARA (ACEHHITS.COM) - Petani di Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara mengeluh  tidak bisa mengangkut keluar hasil panen mereka. 

Keluhan tersebut disampaikan salah seorang warga Desa (Kute) Bun Bun Indah, Kecamatan Leuser, Harjen, kepada Acehhits.com, via pesan WhatsApp, Senin, (6/01/2025). 


Harjen mengatakan saat ini Petani di Kecamatan Leuser sudah mulai memasuki masa panen khususnya komoditi  jagung. Namun, Petani mengalami kendala tidak bisa mengeluarkan hasil panen karena akses jalan satu satunya di daerah itu terputus akibat  longsor.


"Sekarang sudah mulai panen jagung kami disini, hasil panen kami tidak bisa kami angkut keluar," kata Harjen, Senin, (6/01/2025). 


Harjen menjelaskan, kondisi itu disebabkan akses jalan darat yang rusak parah. Ditambah lagi jalan terputus total, tepatnya di jalan penghubung di Kute Kane Mende - Kute Bintang Bukit Indah, Kecamatan Leuser, akibat longsor yang terjadi pada  21 Desember 2024 lalu.

Permasalahan tersebut lah yang kini menjadi polemik bagi petani di Kecamatan Leuser. Keresahan hasil panen akan membusuk karena tidak bisanya diangkut keluar menjadi kegelisahan yang dirasakan. 

Harjen juga menyampaikan, selain  jalan penghubung, tepatnya di Kute Kane Mende - Kute Bintang Bukit Indah yang terputus, kondisi jalan antar desa lainnya juga terjadi longsoran tanah. Persisnya, di jalan antara Kute Permata Musara - KuteLawe Serakut - Kute Bun Bun Indah - Kute Bun Bun Alas. 

Padahal menurut Harjen, akses jalan yang terputus  dan longsor tersebut merupakan nadi bagi warga di pedalaman Leuser, daerah paling selatan Aceh Tenggara itu. 


Harjen mengungkap, kekinian aktivitas keluar masuk kebutuhan dan hasil pertanian, perekonomian dan kebutuhan sehari-hari warga terancam lumpuh. Lebih parahnya lagi sebanyak 15 Kute di daerah itu dilaporkan terisolir. 


Harjen menyampaikan, kondisi ini membuat warga petani Leuser kalang kabut. Sehingga, mereka  membutuhkan solusi secepatnya atas kondisi yang mereka alami dari pihak terkait. 

Menurut Dia, hingga kini belum ada solusi kongkrit tentang permasalahan jalan di Leuser. Sehingga, mereka sangat berharap Pemerintahan melalui stakeholder terkait agar lebih serius mengupayakan solusi untuk menyelesaikan persoalan jalan  yang telah sejak lama mereka hadapi. 

"Kami sangat berharap ada solusi secepatnya tentang nasib kami disini, " harap Harjen. 

Disisi lain, ungkap Harjen, selain akses jalur darat, warga Leuser jmemang juga mengandalkan akses transportasi melalui jalur sungai alas, dengan menggunakan perahu kayu bermesin (Robin) karena kondisi jalur darat tidak memungkinkan untuk dilintasi. 

Pun demikian, belakangan ini, warga masih merasa trauma dan takut untuk menggunakan transportasi air. Akibat kecelakaan perahu kayu bermesin (Robin) yang baru baru ini merenggut sebelas korban jiwa dan satu korban diantaranya hingga kini belum ditemukan. 

 "Kalau jalur air kami masih trauma dan takut. Kemudian untuk ongkos angkut hasil pertanian  juga lebih mahal," tutup Harjen. 


Sebagai informasi, selain hasil pertanian komoditi jagung, di Kecamatan Leuser juga merupakan penghasil komoditi, kemiri, kakao, pisang dan sawit.

Laporan : Riky Octa Berutu





BACA JUGA: